Capres yang Andalkan Popularitas Tidak akan Mencerdaskan

JAKARTA, suaramerdeka.com – Direktur Econit Rizal Ramli mengatakan, bila semua capres hanya mengandalkan popularitas, maka pola yang akan terjadi adalah seperti Filipina. Sebab, mereka yang bisa mencalonkan diri sebagai presiden hanyalah anggota 200 orang terkaya di negeri itu dan atau para pesohor.

“Kalo model kepemimpinannya seperti itu, jangan mimpi Indonesia akan menjadi the next China. Publik pun akhirnya tidak akan memperhatikan integritas dan kompetensi capres,” ucapnya, Rabu (20/2).

Dia mengatakan, capres yang mengandalkan popularitas cuma bermodal uang, beriklan, memasang spanduk/baliho/poster semata tanpa konsep dan gagasan yang jelas. Menurutnya, popularitas tidak terlepas dari peran media. “Sebab yang bisa menentukan popularitas seseorang hanyalah media. Untuk itu, media bertanggung-jawab memopulerkan capres yang benar-benar berintegritas,” tandasnya.

Dia menambahkan, pemimpin yang populer karena pencitraan, tidak akan memimpin bangsanya menjadi semakin cerdas. Sebab, mereka hanya terlihat hebat di media. “Sedangkan pemimpin pencerdasan tidak memerlukan pencitraan. Pemimpin yang mencerdaskan akan berbahasa lugas agar rakyat mengerti. Untuk itu, media perlu mulai mengangkat pemimpin yang mencerdaskan,” tukasnya.

( Saktia Andri Susilo / CN26 / JBSM )

Capres Muda di 2014 Terbuka Lebar

Oleh: Ajat M Fajar
nasional – Jumat, 15 Februari 2013 | 18:30 WIB
Headline

Ilustrasi

INILAH.COM, Jakarta – Peluang calon presiden (capres) muda di pemilihan presiden (pilpres) 2014 masih terbuka lebar. Pasalnya, dari beberapa nama kandidat capres yang muncul di hasil survei diisi oleh tokoh-tokoh lama.

Pengamat politik dari Charta Politica, Arya Fernandes menilai peluang munculnya capres muda di 2014 sangat besar. Masyarakat saat ini membutuhkan sosok pemimpin yang baru dan memiliki kredibilitas baik.

“Publik menginginkan orang-orang baru di 2014, orang-orang yang dapat menginspirasi pemilih. Sejauh ini ada potensi orang-orang baru muncul di 2014,” ujar Arya kepada INILAH.COM, Jumat (15/2/2013).

Menurut dia, tokoh-tokoh muda di partai politik yang ada saat ini cukup memiliki kapasitas dan jam terbang yang mumpuni. Terbukti hampir disemua partai politik memiliki toko muda yang berprestasi.

“Tokoh-tokoh muda ini berpeluang maju di 2014 nanti,” ujarnya.

Meski tokoh-tokoh muda berpeluang maju di Pilpres 2014, namun langkah mereka akan sulit muncul jika tak mendapatkan dukungan besar dari publik.

Pasalnya, tiket capres disetiap partai politik didominasi oleh para tokoh-tokoh tua. Hal ini terlihat dari beberapa hasil survei yang banyak diisi oleh tokoh-tokoh lama seperti Megawati, Prabowo Subinato, Jusuf Kalla dan Aburizal Bakrie.

“Meskipun ada keinginan masyarakat, tapi orang-orang muda ini akan kesulitan dapat tiket capres dari partai. Jadi dominasi ada pada tokoh-tokoh lama,” jelasnya.

Untuk itu, masyarakat harus bisa mendorong munculnya tokoh-tokoh muda berkualitas untuk bisa dimajukan sebagai capres 2014.

Capres dari kaum muda kembali marak setelah politikus senior Taufiq Kiemas menjagokan Pramono Anung diusung sebagai capres dari PDIP pada pilpres 2014.

Pramono Anung dinilai Taufik sebagai figur muda yang memiliki kualitas dan kredibilitas yang baik. Dia juga dikenal masyarakat secara luas karena seringnya tampil. [yeh]

Ini 36 Nama Kandidat Capres Indonesia Pilihan Majalah INA.2014

Baban Gandapurnama – detikBandung

Bandung – Majalah Indonesia 2014 (INA.2014) terbitan edisi Desember 2012 dalam halaman muka menampilkan judul ‘Calon Presiden Kita’. Ada 36 nama atau tokoh dipilih majalah INA.2014 sebagai kandidat Capres. Siapa saja mereka?
Majalah setebal 105 halaman ini digawangi antara lain Goenawan Muhammad, Ade Armando, dan Burhanuddin Muhtadi (Direktur Lembaga Survei Indonesia).

“Redaksi akan menyajikan gambaran tentang 36 nama tokoh Indonesia yang saat ini sudah masuk dalam bursa Calon Presiden, meski dalam tahap yang masih amat dini,” tulis Pemred Majalah INA.2014, Ade Armando, seperti tertulis di halaman 25.

Majalah INA.2014 ini dibagi gratis kepada para tamu dan hadirin yang menyambangi kampus Univeristas Padjajaran (Unpad), Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Kamis (20/12/2012). Di lokasi ini berlangsung acara Diskusi Publik Calon Presiden 2014 bertajuk ‘Upaya Peningkatan Kualitas Pilihan Pemilih’.

Kegiatan besutan Majalah INA.2014 kerjasama LSI, serta Puslitbang Kebijakan Publik & Kewilayahan LPPM Unpad ini menghadirkan narasumber Burhanudin Muhtadi (Direktur LSI), Mahfud MD (Ketua Makhmah Konstitusi), Dede Mariana (Guru Besar FISIP Unpad), dan Hendardi (Aktivis & Pejuang Antikorupsi).

Berikut 36 tokoh kandidat Capres yang dipilih Majalah INA.2014:

1. Aburizal Bakrie
2. Agum Gumelar
3. Agus Martowardojo
4. Anas Urbaningrum
5. Anies Baswedan
6. Chairul Tanjung
7. Dahlan Iskan
8. Din Syamsuddin
9. Djoko Suyanto
10. Endriartono Sutarto
11. Gita Wirjawan
12. Hari Tanoesoedibjo
13. Hatta Rajasa
14. Hidayat Nur Wahid
15. Irman Gusman
16. Jokowi
17. Jusuf Kalla
18. Kristiani Herrawati
19. Luthfi Hasan
20. Mahfud MD
21. Marzuki Alie
22. Megawati Soekarnoputri
23. Muhaimin Iskandar
24. Prabowo
25. Pramono Edhie
26. Pua Maharani
27. Rhoma Irama
28. Rizal Ramli
29. Soekarwo
30. Sri Mulyani
31. Sri Sultan Hamengku Buwono X
32. Surya Paloh
33. Suryadharma Ali
34. Sutiyoso
35. Wiranto
36. Yusril Ihza Mahendra

“Nama-nama tersebut dipilih redaksi berdasarkan sejumlah pertimbangan tertentu,” jelas INA.2014.

Ada empat alasan INA.2014 mempertimbangkan pilihan 36 kandidat capres tersebut. Pertama, mereka memang sudah diajukan secara resmi oleh partai politik tertentu,” jelas INA.2014. Kedua, para Ketua Umum partai politik yang lolos untuk bertarung dalam pemilu, terlepas dari apakah nama-nama mereka secara resmi sudah diajukan sebagai calon atau belum.

Ketiga, mereka yang tercatat dalam peringkat tinggi Capres dalam berbagai jajak pendapat yang dilakukan lembaga survei yang menerapkan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan. Keempat, nama-nama populer atau diajukan berbagai kelompok dan organisasi masyarakat sebagaimana terekam dalam pemberitaan media massa.

(bbn/ern)